Minggu, 20 September 2015
KALA GEOLOGI
September 20, 2015
No comments
RINGKASAN MATERI
KALA GEOLOGI
DAN SEJARAH KEHIDUPAN
A.
Zaman Prakambrium
Ciri
zaman prakambrium adalah lapisan-lapisannya selalu terdapat di bawah
lapisan-lapisan yang mengandung fosil. Pada era prakambium dapat diketahui pula
bahwa di beberapa daerah terdapat iklim yang sangat dingin (endapan terbentuk
oleh gletser). Mahluk hidup pada era ini umumnya berupa bakteri, spons, anemon,
hewan karang, dan cacing.
B. Zaman paleozoikum
Dibagi menjadi:
1.
Masa kambrium
Zaman ini ditandai oleh adanya endapan-endapan yang
mengandung jasad-jasad fosil yang telah mencapai tingkat perkembangan yang
tinggi. Keberadaan mahluk hidup masih terbatas pada wilayah laut.
2.
Masa silur
Banyak kelompok hewan baru muncul dalam zaman silur, di
antaranya yang terpenting adalah vertebrata atau hewan bertulang belakang.
3.
Masa devon
Masa ini bercirikan munculnya tumbuhan darat dan hewan
bertulang belakang, periode devon terbagi menjadi tiga, yaitu devon bawah,
devon tengah, dan devon atas. Pada masa devon banyak ditemukan lapisan-lapisan
endapan daratan yang luas di sungai-sungai atau danau. Pada masa devon, keadaan
iklim sangat panas.
2.
Masa karbon
Masa ini ditandai dengan terbentuknya sejumlah besar karbon
bebas di berbagai bagina dunia. Pada masa karbon ini terjadi pembentukan
pegunungan. Beberapa jenis amfibi mengalami perkembangna pesat pada masa
karbon.
3.
Masa perm
Pada masa ini, benua pangea telah terbentuk dan terjadi
kondisi iklim yang ekstrem berupa iklim dingin dan kering di bagian selatan
serta iklim panas dengan fluktuasi kondisi basah dan kering di bagian utara.
Tumbuhan yang dominan umumnya berupa conifer, tumbuhan paku, dan tumbuhan lain
yang tahan kekeringan.
C. Zaman mesozoikum
Keadaan
iklim pada waktu bersifat panas dan basah. Pada zaman ini mulai berkembang
tumbuhan berdaun lebar, hewan melata, amfibi, ikan, dan mamalia pertama.
D. Zaman kenozoikum
Zaman ini diperkirakan berusia sekitar 65 juta-55 juta
tahun. Keadaan bumi semakin membaik, perubahan cuaca tidak begitu besar
sehingga kondisinya lebih setabil dan kehidupan berkembang dengan pesat.
1. Masa
tersier (Eosen, Oligosen, dan
Pleistosen)
Zaman ini ditandai berkurangnya jenis-jenis binatang besar
dan telah hidup jenis-jenis binatang menyusui, yaitu kera dan monyet.
Selanjutnya mulai berkembang jenis kera manusia.
2. Masa
kuarter (Dilivium dan Alluvium)
Zaman ini
merupakan mesa terpenting dalam kehidupan sebab mulai muncul kehidupan manusia
purba.
Zaman terdiri atas dua bagian, yaitu:
a. Kala Pleistosen (Zaman Dilluvium)
Masa ini
berlangsung kira-kira 3.000.000 tahun-10.000 tahun yang lalu. Keadaan
alam pada masa ini masih liar dan labil karena silih bergantinya dua zaman,
yaitu Zaman Glasial dan Zaman Interglasial.
1) Zaman Glasial, adalah zaman meluasnya lapisan es di Kutub Utara sehingga
Eropa dan Amerika bagian utara tertutup es. Sedangkan daerah yang jauh dari
kutub terjadi hujan lebat selama bertahun-tahun. Permukaan air laut turun
disertai dengan naiknya permukaan bumi diberbagai tempat.
2) Zaman Interglasial, adalah zaman diantara dua zaman es.
Temperatur naik hingga lapisan es di kutub utara mencair, akibatnya permukaan
air laut naik dan terjadi berbagai banjir besar di berbagai tempat. Hal ini
menyebabkan banyak daratan terpisah oleh laut dan selat.
b. Kala Holosen (Zaman Alluvium)
Dimulai
sekitar 10.000 tahun yang lalu. Pada awal kala Holosen, sebagian besar es di
kutub utara sudah lenyap, sehingga permukaan air laut naik lagi. Tanah-tanah
rendah di daerah Paparan Sunda dan Paparan Sahul tergenang air dan menjadi laut
transgresi. Dengan demikian muncullah pulau-pulau di nusantara. Pada masa ini
hidup manusia yang disebut Homo Sapiens (Manusia Cerdas). Pada masa ini juga
mulai muncul nenek moyang kitasekarang ini dan mulailah terjadi perkembangan
kebudayaan manusia yang pesat.
SUMBER :
Bahan Ajar Kala Geologi PPG SM-3T Geografi Universitas Negeri Malang tahun 2015
LAPISAN BUMI DAN TEORI TERBENTUKNYA KULIT BUMI
September 20, 2015
No comments
1.
Lapisan Kulit Bumi (crush)
Kerak bumi adalah lapisan terluar Bumi yang terbagi menjadi
dua kategori, yaitu kerak samudra dan kerak benua. Kerak samudra mempunyai
ketebalan sekitar 5-10 km sedangkan kerak benua mempunyai ketebalan sekitar
20-70 km. Penyusun kerak samudra yang utama adalah batuan basalt, sedangkan
batuan penyusun kerak benua yang utama adalah granit, yang tidak sepadat batuan
basalt. Kerak bumi dan sebagian mantel bumi membentuk lapisan litosfer dengan
ketebalan total kurang lebih 80 km.
Temperatur kerak meningkat seiring kedalamannya. Pada
batas terbawahnya temperatur kerak menyentuh angka 200-400 oC. Kerak
dan bagian mantel yang relatif padat membentuk lapisan litosfer. Karena
konveksi pada mantel bagian atas dan astenosfer, litosfer dipecah menjadi
lempeng tektonik yang bergerak. Temperatur meningkat 30 oC setiap
km, namun gradien panas bumi akan semakin rendah pada lapisan kerak yang lebih
dalam.
2.
Lapisan
Selimut Bumi (Mantle)
Selimut atau selubung bumi merupakan lapisan yang
letaknya dibawah lapisan kerak bumi. Lapisan ini sebagian besar berupa
silikat/besi dan magnesium. Sesuai dengan namanya, lapisan ini berfungsi untuk
melindungi bagian dalam bumi. Selimut bumi tebalnya mencapai 2.900 km dan
merupakan lapisan batuan yang padat yang mengandung silikat dan magnesium. Suhu
dibagian bawah selimut mencapai 3.000◦C,tetapi tekanannya belum mempengaruhi
kepadatan batuan.
Selimut
bumi dibagi menjadi tiga bagian yaitu litosfer, astenosfer dan mesosfer.
a.
Litosfer
Litosfer merupakan lapisan terluar dari selimut bumi dan
tersusun atas materi-materi padat terutama batuan. Lapisan litosfer tebalnya
mencapai 100 km. Bersama-sama dengan kerak bumi, kedua lapisan ini disebut
lempeng litosfer. Litosfer tersusun atas dua lapisan utama , yaitu laipsan sial
dan lapisan sima.
Ø Lapisan
Sial adalah lapisan litosfer yang tersusun atas logam silium dan alumunium.
Senyawa dari kedua logam tersebut adalah SiO2 dan Al2O3. Batuan yang terdapat
dalam lapisan sial antara lain batuan sedimen, granit, andesit, dan metamorf.
Ø Lapisan
Sima adalah lapisan litosfer yang tersusun atas logam silium dan magnesium.
Senyawa dari kedua logam tersebut adalah SIO2 dan MgO. Berat jenis lapisan sima lebih besar jika
dibandingkan dengan berat jenis lapisan sial. Hal itu karena lapisan sima
mengandung besi dan magnesium.
b.
Astenosfer
Astenosfer merupakan lapisan yang teletak
dibawah lapisan litosfer. Lapisan ini tebalnya 100-400 km ini diduga sebagai
tempat formasi magma (magma induk). Astenosfer ini terdiri dari materi dalam
keadaan cair atau semi-cair. Astenosfer suhu normalnya adalah antara 1.400 sampai 3.000 derajat Celcius.
Suhu yang sangat tinggi menyebabkan lapisan, termasuk batu, mencair. Hal ini
terutama terdiri dari silikat besi dan magnesium. Suhu astenosfer bervariasi
dengan dari barysphere atau inti. Pada daerah tertentu di permukaan bumi di
mana suhu inti lebih tinggi, astenosfer dapat ditemukan dalam keadaan cair.
astenosfer berperan dalam gerakan lempeng tektonik dari kerak bumi. Lempeng
tektonik merupakan bagian dari litosfer yang mengapung di atas astenosfer yang semipadat
di bawahnya. Hal ini menyebabkan lempeng-lempeng mengalami perubahan geologis
besar seperti pembentukan pegunungan, lembah keretakan, dataran tinggi dan juga
gempa bumi dan letusan gunung berapi.
a.
Mesosfer
Merupakan lapisan yang terletak dibawah lapisan
astenosfer. Lapisan ini tebalnya 2.400-2.700km dan tersusun dari campuran
batuan basa dan besi.
3.
Barisfer
(lapisan inti bumi atau core)
Barisfer, yaitu lapisan inti bumi yang merupakan bagian
bumi paling dalam yang tersusun atas lapisan Nife (Niccolum atau nikel dan
ferrrum atau besi). Lapisan ini dapat pula dibedakan atas dua bagian yaitu inti
luar dan inti dalam.
a.
Inti
luar (Outer core)
Inti
luar adalah inti bumi yang ada di bagian luar. Tebal lapisan ini sekitar 2.200
km, tersusun atas materi besi dan nikel yang bersifat cair, kental, dan panas
berpijar bersuhu sekitar 3.900 0C.
b.
Inti dalam (Inner core)
Inti dalam adalah inti bumi yang
ada di lapisan dalam dengan ketebalan sekitar 2.500 km, tersusun atas materi
besi dan nikel pada suhu yang sangat tinggi yakni sekitar 4.8000 C, akan tetapi
tetap dalam keadaan padat dengan densitas sekitar 10 gram/cm3. Hal itu
disebabkan adanya tekanan yang sangat tinggi dari bagian-bagian bumi lainnya.
Untuk lebih jelasnya tentang karakteristik perlapisan bumi, dapat kamu
lihat pada ilustrasi gambar berikut
A.
TEORI
TERBENTUKNYA KULIT BUMI
Kulit bumi dari waktu ke waktu selalu
mengalami perubahan. Hal ini telah menjadi bahan pemikiran para ahli untuk
mengungkap proses perubahan dan perkembangan kulit bumi pada masa lalu,
sekarang dan prediksi pada masa yang akan datang. Adapun berbagai teori
terbentuknya kulit bumi yang dikemukakan para ahli antara lain sebagai berikut.
1.
Teori
kontraksi (Contraction theory)
Teori ini dikemukakan pertama kali oleh
Descrates (1596-1650). Ia menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan
mengkerut yang disebabkan oleh terjadinya proses pendinginan, sehingga di
bagian permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran. Teori
kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant (1852).
Mereka berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi proses
pendinginan di bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi
mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah.
2.
Teori
dua benua (Laurasia-Gondwana theory)
Teori
ini menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas dua benua yang sangat
besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar kutub
selatan bumi. Kedua benua tersebut kemudian bergerak perlahan ke arah equator
bumi, sehingga akhirnya terpecah-pecah menjadi benua benua yang lebih kecil.
Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana
terpecah menjadi Afrika, Australia dan Amerika Selatan. Teori Laurasia-Gondwana
kali pertama dikemukakan oleh Edward Zuess pada 1884.
3.
Teori
pengapungan benua (Continental drift
theory)
Teori pengapungan benua dikemukakan oleh
Alfred Wegener pada 1912. Ia menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada
satu benua maha besar yang disebut Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian
terpecahpecah dan terus bergerak melalui dasar laut. Gerakan rotasi bumi yang
sentripugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah barat menuju
equator. Teori ini didukung oleh bukti-bukti berupa kesamaan garis pantai
Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur, serta adanya kesamaan
batuan dan fosil pada kedua daerah tersebut.
4.
Teori
konveksi (Convection theory)
Menurut
teori konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess dan
dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz, menyatakan bahwa di dalam bumi
yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah
lapisan kulit bumi yang berada di atasnya, sehingga ketika arus konveksi yang
membawa materi berupa lava sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge
(punggung tengah samudera), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit
bumi yang baru menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua. Bukti
kebenaran teori konveksi adalah terdapatnya tanggul dasar samudera (Mid Oceanic
Ridge), seperti Mid Atlantic Ridge dan Pasific-Atlantic Ridge. Bukti lainnya
didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang membuktikan bahwa semakin jauh
dari punggung tengah samudera, umur batuan semakin tua. Artinya terdapat
gerakan yang berasal dari Mid Oceanic Ridge ke arah berlawanan yang disebabkan
oleh adanya arus konveksi dari lapisan di bawah kulit bumi.
5. Teori lempeng tektonik (Plate Tectonic theory)
Seperti dijelaskan sebelumnya
bahwa planet bumi terdiri atas sejumlah lapisan. Lapisan bagian atas bumi
merupakan bagian yang tegar dan kaku berada pada suatu lapisan yang plastik
atau cair. Hal ini mengakibatkan lapisan permukaaan bumi bagian atas menjadi
tidak stabil dan selalu bergerak sesuai dengan gerakan yang berada di bawahnya.
Keadaan inilah yang melatarbelakangi lahirnya teori Lempeng Tektonik. Lahirnya teori
lempeng tektonik (tectonic Plate theory) pada tahun 1968 merupakan
kenyataan mutakhir dalam geologi yang menunjukkan terjadinya evolusi bentuk
permukaan bumi. Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh Tozo Wilso. Berdasarkan
teori ini, kulit bumi atau litosfer terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang
berada di atas lapisan astenosfer, Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit
bumi selalu bergerak karena pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan
astenosfer yang berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi.
Litosfer sebagai lapisan paling luar dari badan bumi, bagaikan kulit ari
pada kulit manusia dan merupakan lapisan kerak bumi yang tipis. Prinsip teori
tektonik lempeng adalah kulit bumi terdiri atas lempeng-lempeng yang
kaku dengan bentuk tidak beraturan. Dinamakan lempeng karena bagian
litosfer mempunyai ukuran yang besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan
lebar), tetapi berukuran kecil pada arah vertikal (ketebalan). Bandingkan
dengan daun meja, daun pintu, atau lantai di kelas kalian! Lempeng ini terdiri
atas lempeng benua (tebal sekitar 40 km) dan lempeng samudera (tebal sekitar 10
km). Kedua lempeng tersebut berada di atas lapisan astenosfer dengan
kecepatan rata-rata 10 cm/tahun atau 100 km/10 juta tahun. Astenosfer merupakan
suatu lapisan yang cair (kental) dan sangat panas. Panasnya cairan astenosfer
senantiasa memberikan kekuatan besar dari dalam bumi untuk menggerakkan
lempeng-lempeng secara tidak beraturan. Kekuatan ini dinamakan tenaga
endogen yang telah menghasilkan berbagai bentuk di permukaan bumi. Di bumi
ini litosfer terpecah-pecah menjadi sekitar 12 lempeng.
Teori lempeng tektonik banyak didukung oleh fakta ilmiah,
terutama dari data penelitian geologi, geologi kelautan, kemagnetan purba,
kegempaan, pendugaan paleontologi, dan pemboran laut dalam. Lahirnya teori
lempeng tektonik sebenarnya merupakan jalinan dari berbagai konsep dan teori
lama seperti Teori Apungan Benua, Teori Arus Konveksi, Teori Pemekaran Lantai
samudera, dan Teori Sesar Mendatar, sebagaimana telah dijelaskan pada
teori-teori di atas.
Berdasarkan kajian para ahli, lempeng tektonik yang tersebar di permukaan
bumi dapat dilihat pada gambar berikut ini
Lempeng-lempeng tersebut selalu bergerak dan mendesak satu sama
lain. Lempeng tektonik bagian atas disebut lempeng samudera, sedangkan lempeng
tektonik pada bagian atas terdapat masa kontinen disebut lempeng benua. Kedua
lempeng ini memiliki sifat yang berbeda. Apabila dua lempeng yang berbeda sifat
tersebut saling mendekat, umumnya lempeng samudera akan ditekuk ke bawah
lempeng benua hingga jauh ke dalam lapisan astenosfer.
Bertemunya antara dua lempeng seperti ini dinamakan gerakan
bertumbukan (subduction), sedangkan daerah yang menjadi tempat tumbukan
lempenglempeng disebut subduction zone. Selain saling mendekat kemudian
bertumbukan, gerakan lempeng juga ada yang saling menjauh dengan lempeng lainnya,
dinamakan gerak divergent atau disebut juga sebagai proses pemekaran. Hasil
pemekaran lempeng yang berada di atas benua disebut rifting, sedangkan
pemekaran yang berada di samudera disebut spreading. Contoh proses ini adalah
pecahnya Benua Pangea pada Zaman Trias dengan membentuk celah sepanjang
pinggiran Atlantik yang memisahkan Afrika dan Amerika Latin. Coba kamu
perhatikan kedua benua tersebut! Pasti nampak seperti sebuah sobekan kertas
yang keduanya menunjukkan ciri-ciri bekas sobekan yang berpasangan. Selain itu,
ada juga gerakan lempeng yang hanya bersinggungan atau berpapasan, disebut juga
transcurrent fault. Setiap gerakan lempeng yang berbeda tersebut, akan
mempengaruhi gejala dan fenomena alam di atas permukaan bumi. Secara lengkap,
prinsip pergerakan lempeng-lempeng tektonik adalah sebagai berikut:
a. a. Konvergensi
Konvergensi, yaitu gerakan saling
bertumbukan antarlempeng tektonik.
Tumbukan antarlempeng
tektonik dapat berupa tumbukan antara lempeng benua
dengan benua atau
antara lempeng benua dengan lempeng dasar samudera. Zone atau tempat terjadinya
tumbukan antara lempeng tektonik benua dengan benua disebut Zone Konvergen.
Contohnya tumbukan antara lempeng India dengan lempeng Benua
Eurasia yang menghasilkan terbentuknya pegunungan lipatan muda Himalaya yang
merupakan pegunungan tertinggi di dunia dengan puncak tertingginya, yaitu Mount
Everest. Contoh lainnya, tumbukan lempeng Italia dengan Benua Eropa yang
menghasilkan terbentuknya Pegunungan Alpen. Zone berupa jalur tumbukan
antarlempeng benua dengan lempeng dasar samudera, disebut Zone Subduksi atau
zone tunjam, contohnya tumbukan antara lempeng benua Amerika dengan lempeng
dasar Samudera Pasifik yang menghasilkan terbentuknya Pegunungan Rocky dan
Pegunungan Andes.
Fenomana yang
dihasilkannya:
1) lempeng samudera menghujam ke bawah lempeng
benua;
2) terbentuk palung laut di tempat tumbukan
tersebut;
3) pembengkakan tepi lempeng benua yang
merupakan deretan pegunungan;
4) terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi dan
ekstrusi;
5) daerah hiposentra gempa dangkal dan dalam;
6) penghancuran lempeng akibat pergesekan
lempeng;
7) timbunan sedimen campuran atau melange.
Contoh:
Pegunungan di pantai
barat Amerika, deretan Pulau Sumatera, Jawa dan Nusa
Tenggara, merupakan
akibat pembengkakan lempeng benua. Bermunculan puncak
gunungapi dan terjadi
gempa di sepanjang pulau dan pegunungan tersebut.
Ingatlah bahaya gempa
yang menimbulkan Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara
pada akhir Desember
2004, gempa tersebut timbul akibat adanya tumbukan antara lempeng samudera
Australia terhadap lempeng benua Asia.
b. Divergensi
Divergensi yaitu gerakan saling
menjauh antarlempeng tektonik contohnya gerakan saling menjauh antara lempeng
Afrika dengan Amerika bagian selatan. Zone berupa jalur tempat berpisahnya lempeng-lempeng
tektonik disebut Zone Divergen (zone sebar pisah). Fenomena yang
terjadi, sebagai berikut:
1)
Perenggangan lempeng yang disertai pertumbukan kedua tepinya.
2) Pembentukan tanggul dasar samudera (med ocean ridge) di
sepanjang tempat perenggangan lempeng-lempeng tersebut.
3) Aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa
berstruktur bantal (lava bantal) dan hamparan leleran lava encer, dan
4)
Aktivitas gempa.
Contoh:
Di Lautan Atlantik, tanggul dasar samudera
memanjang dari dekat Kutub
Utara sampai mendekati Kutub Selatan. Celah
ini menjadikan benua Amerika bergerak saling menjauh dengan benua Eropa dan Afrika.
C. Sesar mendatar
Sesar mendatar (Transform), yaitu gerakan saling
bergesekan (berlawanan arah) antarlempeng tektonik. Contohnya, gesekan antara
lempeng Samudera Pasifik dengan lempeng daratan Amerika Utara yang
mengakibatkan terbentuknya Sesar San Andreas yang membentang sepanjang kurang
lebih 1.200 km dari San Francisco di utara sampai Los Angeles di selatan
Amerika Serikat. Zone berupa jalur tempat bergesekan lempeng-lempeng tektonik disebut Zone Sesar Mendatar
(Zone Transform). Bentukan alam yang dihasilkan antara lain patahan
atau sesar mendatar. Gerak patahan atau sesar ini dapat menimbulkan gempa
bumi. Contoh: Sesar Sam Andreas di California.
Tenaga endogen yang telah mengakibatkan adanya variasi bentuk
muka bumi, tidak hanya
terjadi di daratan melainkan juga di dasar laut.
Sumber :
Bahan Ajar PPG SM-3T Geografi Universitas Negeri Malang Tahun 2015
Bahan Ajar PPG SM-3T Geografi Universitas Negeri Malang Tahun 2015
ROTASI DAN REVOLUSI BUMI
September 20, 2015
No comments
GERAKAN ROTASI BUMI
Rotasi bumi
adalah gerakan bumi berputar pada porosnya/sumbunya dari barat ke timur dengan
durasi 24 jam dalam sekali putaran.
Cepatnya gerakan
rotasi bumi memberi efek pandangan terhadap benda angkasa lainnya berjalan dari
timur ke barat. Jika diibaratkan, kita naik kereta api yang berjalan, maka
tampaklah pohon-pohon, tiang listrik dan rumah-rumah yang dilewati kereta
seakan-akan berlarian. Gerakan pohon-pohon dan tiang-tiang listrik tersebut
dinamakan gerak semu. Bayangkanlah bahwa sekarang kita sedang
"menumpang" bumi yang sedang melaju dalam rotasinya. Maka semua benda
yang terlihat dari bumi seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang
seolah-olah bergerak dari timur ke barat itulah yang disebut gerak semu
benda-benda langit. Akibat yang sangat berpengaruh dari gerak rotasi bumi
terhadap kehidupan di bumi adalah pergantian siang dan malam.
Bumi berotasi
berputar dengan teratur dan disiplin selama 23 jam 56 menit setiap hari.
Peristiwa siang di suatu tempat di bumi pada dasarnya tempat tersebut sedang
menghadap sinar matahari sedangkan peristiwa malam adalah permukaan bumi yang
sedang membelakangi sinar matahari. Ketika bumi sedang berotasi, jarang di
antara kita yang menyadarinya, hal ini karena selubung udara (atmosfer) bumi
turut serta berputar. Seandainya atmosfer bumi tidak ikut berputar maka angin
kencang akan menerpa seluruh permukaan bumi dan tentunya tidak ada kehidupan
yang tenang karena kencangnya rotasi
bumi.
AKIBAT
TERJADINYA ROTASI BUMI
Selain
menciptakan pergiliran siang dan malam, rotasi bumi juga mengakibatkan:
1.
Adanya
Peredaran Semu Harian Benda Langit
Pada uraian di
atas telah dijelaskan bahwa matahari, bintang, dan bulan bergerak dari timur
menuju barat. Pergerakan benda langit itu dinamakan peredaran semu harian.
Bintang menempuh lintasan peredaran semunya memakan waktu selama 23 jam 56
menit (disebut satu hari bintang), tetapi matahari menempuh lintasan peredaran
semunya memakan waktu 24 jam, sedangkan bulan memakan waktu peredarannya 24 jam
50 menit perhari. Periode peredaran semu matahari yang lebih lama dari bintang
merupakan akibat gerak revolusi sedangkan periode peredaran semu bulan sebagai
akibat dari bulan yang berevolusi mengedari bumi.
2.
Perbedaan
Waktu
Perhitungan
waktu yang kita gunakan sehari-hari adalah waktu matahari. Untuk memahami
perbedaan waktu di bumi pahami dulu putaran globe dengan baik. Pada globe
terlihat garis-garis yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi.
Garis-garis tersebut dinamakan garis meridian. Berbicara tentang perhitungan
waktu di bumi, terkait dengan garis meridian. Garis meridian yang
melalui daerah Greenwich, dekat kota
London di Inggris ditetapkan sebagai garis meridian 0 derajat.
Jika di
Greenwich yang memiliki standar meridian 0 derajat sedang pukul 07.00 waktu
setempat (Greenwich Mean Time atau GMT) maka di Indonesia bagian Barat (WIB)
yang memiliki standar meredian 1050 BT sudah pukul 14.00 WIB. Hal
ini karena 105:15 = 7 jam. Selisih waktu Greenwich dan WIB adalah 7 jam lebih
awal. Indonesia yang memiliki batas astronomi antara 950 BT – 1410
BT memiliki panjang wilayah 46 derajat (141-95 = 46). Berdasarkan hal itu
negara kita dapat dibedakan dalam 3 wilayah waktu yaitu standar meridian 1050
BT ditetapkan sebagai batas Waktu Indonesia Barat (WIB) Daerah WIB meliputi:
Sumatra, Jawa, Kalbar, Kalteng, standar meridian 1200 BT ditetapkan
sebagai
waktu Indonesia Tengah (WITA) meliputi:
Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Kaltim, Kalsel dan standar Meridian 1350
BT ditetapkan sebagai Waktu Indonesia Timur (WIT) meliputi: Maluku dan Irian
Jaya (Papua).
3.
Pembelokan
Arah Angin
Angin bertiup dari
daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Meskipun demikian arah
angin tidak sama persis dengan arah gradien tekanan, hal ini disebabkan adanya
efek gaya Coriolis pada angin. Gaya Coriolis adalah gaya semu yang timbul
akibat efek dua gerakan yaitu gerak rotasi bumi dan gerak benda relatif
terhadap bumi.
GERAKAN REVOLUSI BUMI
Revolusi bumi
adalah peredaran bumi mengelilingi matahari dari barat ke timur (berlawanan arah
jarum jam). Bentuk lintasan edar bumi mengelilingi matahari adalah elips, dan
lintasannya disebut orbit bumi. Periode satu kali edar tepatnya selama 365 hari
5 jam 48 menit 46 detik. Selama mengitari matahari, poros bumi selalu miring
23,50 terhadap garis yang
tegak lurus.
AKIBAT REVOLUSI BUMI
Akibat dari
revolusi bumi dan kemiringan sumbu yang tetap 66,50 mengakibatkan
pengaruh sebagai berikut:
1.
Terjadinya
Peredaran Semu Tahunan Matahari
Gerak semu
tahunan matahari selama 6 bulan ke arah utara dan 6 bulan kemudian berganti ke
selatan. Gerak semu tahunan matahari adalah gerakan semu matahari di
khatulistiwa bolak balik antara 23,50 lintang utara dan lintang
selatan.
2.
Perubahan
Panjang Waktu Siang dan Malam
Pada waktu tanggal 21
Juni, yaitu matahari beredar pada garis lintang 23,50 LU atau di GBU
daerah yang dilaluinya mengalami siang hari lebih panjang daripada pada malam
hari sebaliknya pada tanggal 22 Desember di tempat ini periode siang hari lebih
pendek dan periode malam hari lebih panjang. Keadaan ini berlaku di semua daerah
yang berada di belahan bumi utara. Keadaan di belahan bumi
selatan, pada tanggal 21 Juni memiliki malam yang lebih panjang daripada siang harinya.
Pada tanggal 22 Desember, siang hari lebih panjang daripada malam hari. Adapun
padatanggal 21 Maret dan 23 September, siang hari akan sama panjang dengan
malam hari di semua tempat di permukaan bumi kecuali di kutub.
3.
Pergantian
Musim
Sebab-sebab
terjadinya pergantian musim di bumi:
-
Karena sumbu bumi condong/ miring (66,50)
terhadap bidang orbit ataupun ekliptika sehingga matahari dilihat dari bumi
seolah bergerak ke arah utara dan/ selatan khatulistiwa
-
Karena adanya revolusi bumi
-
Sumbu bumi selalu sejajar dengan dirinya
sendiri.
Selain perbedaan
panjang waktu malam dan siang, revolusi bumi juga berakibat pada pergantian
musim. Daerah tropis yang dilalui angin musim terjadi pergantian musim hujan
dan kemarau.
No
|
Waktu
|
Musim GBU
|
Musim GBS
|
1
|
21 Maret – 21 Juni
|
Semi
|
Gugur
|
2
|
21 Juni – 23
September
|
Panas
|
Dingin
|
3
|
21 September –
22 Desember
|
Gugur
|
Semi
|
4
|
22 Desember –
21 Maret
|
Dingin
|
Panas
|
SUMBER :
Bahan Ajar Rotasi dan Revolusi bumi dari PPG SM-3T Geografi Universitas Negeri Malang tahun 2015
Langganan:
Postingan (Atom)























